Padang Pariaman — Sebuah kisah pilu datang dari Korong Marantiah, Nagari Katapiang. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Pilwana, ada jeritan sunyi seorang ibu yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Semua bermula pada Senin, 27 April 2026. Saat itu, Dasman, S.Sos bersama tim relawan dari Korong Talao Mundam menuju Korong Marantiah untuk agenda pertemuan. Namun, rencana itu berubah seketika ketika sebuah kabar menyayat hati disampaikan oleh warga.
Seorang ibu bernama Yerni Marlina diketahui sedang menderita kanker payudara dalam kondisi sangat parah. Ia terbaring lemah di rumahnya, tanpa perawatan medis yang layak. Mendengar kabar itu, Dasman tanpa ragu menghentikan agenda pertemuan.
“Pertemuan ini kita tunda. Kita lihat dulu kondisi warga tersebut. Kalau harus dirawat, kita carikan solusi sekarang. Tidak perlu menunggu saya jadi wali nagari,” tegas Dasman.
Rumah Tanpa Pintu, Harapan yang Hampir Padam
Sesampainya di lokasi, pemandangan yang terlihat begitu memilukan. Yerni Marlina terbaring lemah di atas tempat tidur sederhana, dirawat oleh ibunya yang sudah renta, Mak Suni.Mereka hanya tinggal berdua. Rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak, Tidak memiliki pintu. Tidak ada jendela.Hanya terpal yang menutup celah angin. Atap pun bocor—air hujan masuk membasahi ruangan.
Rumah itu dibangun seadanya, sedikit demi sedikit, dari sisa bantuan gempa tahun 2014. Hingga kini, tak pernah benar-benar selesai.
Ditinggalkan Suami, Terpisah dari Anak
Yerni Marlina adalah seorang ibu dari empat orang anak. Namun kini, ia harus berjuang tanpa suami di sampingnya.
Keempat anaknya terpaksa dibawa oleh saudaranya ke Solok, karena tidak ada yang mampu mengurus mereka di rumah. Sementara Mak Suni harus fokus merawat Yeni seorang diri.
Bayangkan…
Seorang ibu sakit parah, terpisah dari anak-anaknya.Seorang nenek tua, berjuang merawat anaknya tanpa penghasilan.
Pernah Dirawat, Tapi Pulang dalam Luka
Menurut Mak Suni, Yerni sebenarnya pernah dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang menggunakan BPJS.
Namun, karena kondisi Yerni yang sering berteriak kesakitan dan mengigau, ia merasa tidak diterima.
Dengan hati hancur dan rasa takut, Mak Suni memilih membawa pulang anaknya secara diam-diam pada malam hari, tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit.
Sejak saat itu…
Yerni hanya dirawat di rumah.
Tanpa pengobatan lanjutan.
Tanpa kepastian.
Kadang Makan, Kadang Tidak
Sehari-hari, Mak Suni dan Yerni hidup dalam keterbatasan yang sangat memprihatinkan.
Makan pun tidak menentu.
Tetangga sekitar menjadi satu-satunya harapan.
Bundo Kanduang dan warga sekitar bergotong royong membantu sekadar untuk bertahan hidup.
“Kadang makan, kadang tidak. Kami bantu semampunya,” ujar salah seorang warga.
Uluran Tangan Kecil, Harapan Besar
Melihat kondisi tersebut, Dasman dan tim tidak bisa menahan haru. Sebelum pulang, ia menyerahkan bantuan seadanya kepada Mak Suni.
“Mak, ini sedikit bantuan dari saya. Mudah-mudahan nanti saya bisa bantu lagi,” ucapnya lirih.
Namun, semua sadar…
Bantuan itu belum cukup.
Mari Kita Bantu Yerni Marlina
Hari ini, Yerni Marlina sedang berjuang melawan penyakitnya dalam keterbatasan yang luar biasa.
Ia membutuhkan:
Pengobatan dan perawatan medis
Biaya hidup sehari-hari
Perbaikan tempat tinggal yang layak
Sekecil apa pun bantuan dari kita, akan sangat berarti bagi kehidupan mereka.
Jangan biarkan mereka berjuang sendiri.
Mari bersama kita ulurkan tangan, ringankan beban, dan hidupkan kembali harapan yang hampir padam.
" Joe young "
#BantuYerniMarlina #PeduliSesama #KatapiangBergerak #KemanusiaanDiAtasSegalanya #DonasiUntukSesama**



Tidak ada komentar:
Posting Komentar